Amal jariyah adalah perbuatan kebaikan yang walaupun si pelaku telah meninggal dunia pahalanya terus menerus mengalir.
Yazid Raqqasyi menuturkan, ada tujuh amal jariyah yang dapat mengucurkan pahala secara terus-menerus. Diantaranya :
1. Membangun masjid, Membangun Madrasah, Pondok Pesantren dan yang semisalnya.
2. Membuat saluran air minum, selama diminum masyarakat.
3. Menulis atau mencetak mush-haf (Alqur’an) selama dibaca.
4. Menggali sumur, selama digunakan masyarakat.
5. Menanam pohon, selama hasilnya dapat dinikmati orang lain atau hewan.
6. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat, selama ilmu itu diamalkan.
7. Meninggalkan anak yang sholeh, selama dia mendo’akan kepada kedua orang tuanya. Karenanya, apabila mempunyai anak, didiklah dengan ilmu yang bermanfaat, ajarkan membaca Alqur’an. Selama anak tersebut membaca Alqur’an dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya, selama itu pula orang tuanya memperoleh pahalanya. Sebaliknya, jika anak dibiarkan atau tidak dibekali dengan ilmu sehingga melakukan kejahatan karena kebodohannya, maka orang tuanya juga mendapat bagian dosa dari perbuatan anaknya. (sumber : masjid jami.com, malang, jawa timur)
PA Al-Umm memberikan pendidikan agama dan umum kepada penuntutnya denganmengutamakan penguasaan ilmu agama dengan harapan mampu mengamalkannya, sehingga ilmu-ilmu yang didapat tersebut dapat mengair terus kepada generasi sesudahnya. Dengan demikian Simpanan Dana Akhirat Bapak Ibu dapat terus berfungsi seperti sistim Multi Level Jariyah (MLM dalam bisnis).
Oleh karena itu, cara untuk memiliki amal jariyah ini adalah:
1. Menymbang sendiri apabila memang mampu (mengamalkan sendiri);
2. Mengajak orang lain menyumbang atau melakukan kebaikan lainnya;
3. Tidak henti-hentinya memberi nasehat.
InsyaAllah jika tiga cara tersebut dilakukan, dengan niat lillahi ta'ala, bukan karena manusia, Allah mengaruniai kita pahala amal jariyah yng dimaksud, amin....
Akan tetapi syetan tidak akan berhenti menggoda manusia selagi belum kiyamat qubro. Syetan akan membisikkan kepada hati kita agar kita menyumbang atau membantu hanya kepada orang-orang atau lembaga yang telah terkenal atau dikenal, sehingga kita merasa aman dengan bantuan yang diberikan tersebut. Padahal jika kita melakukan hal tersebut pun belum tentu diterima Allah SWT bahkan kalau dinalar, bantuan yang semacam itu lebih mendekati kepada riya' atau tidak murni ikhlas karena Allah, sebab kita membantu ingin diketahui oleh orang atau lembaga yang menerimanya, bukan karena Allah SWT.
Semoga kita terhindar dari hal tersebut, amin....
Kebanyakan orang-orang yang sudah sukses di bidang duniawi, biasanya mereka ahanya akan membantu kepada lembaga atau guru yang pernah ia belajar dahulu, walaupun lembaga atau guru tersebut telah tergolong mampu dibandingkan dengan yang lainnya. Hal tersebut juga lebih mengajak kepada riya', karena mereka hanya mau menyumbang atau membantu lembaga/guru yang ia kenal dan telah tidak butuh bantuan (berkecukupan). Sehingga kita lebih dianjurkan membantu orang-orang atau lembaga yang memang benar-benar membutuhkan bantuan, walaupun kita tidak mengenalnya, sebab walaupun penyumbang tidak melihat langsung, Allah SWT pasti mencatatnya sebagai amal sholeh (ikhlas) dan pahalanya akan terus mengalir, insyaAllah. Perkara bantuan tersebut diselewengkan oleh pengurus atau lainnya, maka hal tersebut menjadi tanggung jawab pengrus itu sendiri dengan Allah SWT. Hal ini tidak akan pernah lepas dari pengawasan Allah walau sedikitpun.
Semoga dengan membaca sedikit uraian di atas, kita dimampukan Allah untuk menjadi dan termasuk golongan MUKHLISHIN..... amin Allahumma amin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar